Kontak

082257764899

081230394996

trasmodern@gmail.com
Kalender

Calendar Widget by CalendarLabs

JAKARTA – Batu marmer, bukan barang yang asing didengar. Bahan ini terkenal memiliki kegunaan untuk mempercantik, sekaligus memperkuat konstruksi hunian. Terlebih, pada hunian-hunian kelas atas. Pun, gedung-gedung dan perkantoran.

Batu marmer digunakan pada bagian interior maupun eksterior rumah. Seperti, digunakan pada dinding eksterior dan veneer (bahan untuk ditempelkan pada dinding). Begitu pula untuk lantai, fitur-fitur rumah yang dekoratif, tangga serta jalan setapak di dalam maupun di luar rumah. Batu marmer yang dijadikan bahan konstruksi rumah, akan membawa kesan mewah dan eksklusif.

Marmer adalah batuan alami dengan kandungan kalsium tinggi. Batuan ini biasanya ditambang dalam potongan besar kemudian dipotong menjadi lempengan, blok ataupun ubin. Potongan ini kemudian diasah sampai rata dan dipoles hingga mengilap.

Marmer sudah dipergunakan sebagai lantai rumah di berbagai belahan dunia selama berabad-abad. Sekalipun menimbulkan kesan indah dan mewah, marmer membutuhkan biaya perawatan tinggi dan cukup sulit pemasangannya. Harganya juga terbilang mahal. Oleh sebab itu, material tersebut hanya ditemukan pada rumah-rumah mewah. Dengan pori-pori yang bisa menyimpan noda, perawatan marmer agak sulit.

Salah satu jenis marmer yang populer adalah marmer travertine. Jenis batu marmer ini memiliki tampilan khas berupa guratan cantik serta lubang-lubang alami pada bagian permukaannya.  Marmer travertine telah dikenal sejak zaman dahulu untuk membangun perumahan, kuil, monumen, dan bangunan terkenal. Hingga saat ini travertine masih banyak digunakan untuk area eksterior dan interior, seperti paving teras, dinding, dan lantai.

Sedikit informasi, marmer yang legendaris dan unik berasal dari Thassos, Yunani. Ini jenis terbaik di dunia. Berwarna salju dan mampu memadamkan hawa panas, sepanjang hari.  Jenis ini dipakai di banyak bangunan bersejarah.

Maka tak heran tanpa alas kaki tawaf, telapak kaki orang-orang di Masjidil Haram selalu dingin. Apalagi di pelataran tawaf depan Kakbah, tetap dingin. Berbanding terbalik dengan di luar masjid, tanpa alas kaki, telapak dipastikan akan terbakar.

Pulau Thasoss dikenal memiliki warisan marmer sejak ribuan tahun silam. Marmer Thassos dikenal di seluruh dunia karena kualitasnya. Thasoss yang juga punya cerita dengan Zeus itu kini adalah pulau wisata terkemuka di Yunani. Di sana lori datang dan pergi membawa marmer mahal tersebut untuk selanjutnya dieskpor.

Setali tiga uang, kegunaan granit juga sama seperti marmer. Yakni menampilkan kesan mewah pada bangunan sekaligus menguatkan. Batu ini umumnya banyak ditemukan dan didapatkan di hampir seluruh wilayah Indonesia. 

Umumnya batu granit memiliki ukuran yang besar serta keras dan kuat. Maka tidak mengherankan jika batu ini laris untuk dijadikan ornamen dinding dan lantai bangunan. Batu granit memiliki tekstur keras karena terbentuk dari metamorfosa material gunung berapi. Untuk penampilan fisik, granit memiliki warna dengan aksen bintik-bintik.

Bintik-bintik tersebut muncul akibat beberapa zat, seperti kuarsa, biotit mica yang menyatu dengan batu. Batu granit merupakan ornamen yang laris diburu untuk dijadikan lantai, dinding, dan lain sebagainya. 

Nilai Impor Besar
Jika ditilik, sumber daya mineral nonlogam di Indonesia cukup melimpah. Stenly Mamentu – Head of Sales Department PT Citatah Tbk, produsen marmer ini memiliki tambang marmer di Sulawesi Selatan, mengatakan hal ini. Diakuinya cadangan marmer Indonesia, lebih dari cukup.

“Untuk kebutuhan perseroan, cadangan marmer di lokasi tambang Sulawesi Selatan cukup untuk 50 tahun ke depan,” urai Stenly kepada Validnews, Jumat (11/1).

Dia menambahkan, per tahun, perseroan menghasilkan setidaknya 500 ribu meter persegi marmer. Bahkan, produksi Citatah sudah melantai ke 45 negara.

Keterangan Stenly didukung data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seperti ditulis dalam artikel Validnews, “Menakar Potensi Cadangan Batuan Mineral”.  Berdasarkan data itu, cadangan hipotetik batu gamping atau marmer mencapai 607.867,44 juta ton. Sedangkan cadangan terbukti 4.077,78 juta ton. 

Lalu, untuk batu granit mencapai 60.760,22 juta ton hipotetik yang memiliki cadangan terbukti sebesar 205,46 juta ton. Begitu halnya batu marmer yang memiliki 106.220,38 juta ton, hanya saja belum memiliki cadangan baik secara terkira ataupun terbukti.

Meski tampak data seperti itu, ternyata kontribusi perdagangan bahan galian nonlogam Indonesia– marmer dan granit salah satu komoditas bahan galian nonlogam–masih rendah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan diolah oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Ditjen Daglu) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) mengungkap ini. Ternyata, tren nilai impor beberapa produk mineral nonlogam periode 2013-2017 sempat mengalami penurunan sebesar 6,91%.

Akan tetapi, pada Januari–Oktober 2018, impor tercatat terkerek naik menjadi US$859,70 juta. Nilai impor itu bertambah 15,56% dibandingkan periode yang sama pada 2017 sebesar US$748,92 juta.

Bilai diurai, nilai impor marmer Indonesia pada periode Januari–Oktober 2018 bertengger pada angka US$19,488 juta atau meningkat 2,27% dari tahun sebelumnya. Pada periode sama tahun sebelumnya, impor marmer sebesar US$13,544 juta. 

Begitu halnya batu gamping/kapur yang mengalami peningkatan nilai impor 5,32% pada 2018 dibanding tahun sebelumnya. Pada 2017, nilai impor US$42,479 juta menjadi US$45,759 juta tahun berikutnya.

Perlu Impor
“Tak hanya secara nilai yang tinggi,” ujar Kepala Bidang Mineral Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM Mochammad Awaludin.

Menurut dia, kebutuhan dalam negeri ternyata juga banyak dipasok dari luar negeri. “Seperti batu gamping yang di impor. Terutama untuk keperluan smelter, dan juga bangunan,” tutur Awaludin, saat berbincang dengan Validnews, Jumat (11/1).

Awaludin menuturkan, alasan impor batu gamping atau kapur karena menghitung dampak lingkungan. Jika aktivitas penambangan dilakukan terus, akan berdampak pada kerusakan di lahan karst. “Alasan impor ya itu, karena isu lingkungan,” jelasnya.

Dia lanjutkan, salah satu negara penyuplai batu gamping ke Tanah Air adalah China.

Jika merujuk pada data yang diperoleh dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), tercatat pada 2017 di posisi lima teratas, China mendominasi impor industri barang galian bukan logam ke Indonesia. 

Gallery

Visitor